Permasalahan lingkungan seperti pencemaran, sampah plastik, dan perubahan iklim semakin terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan menjadi salah satu cara paling efektif untuk menanamkan kesadaran sejak dini agar generasi muda mampu berperilaku ramah lingkungan. Salah satu program nasional yang fokus pada hal ini adalah Sekolah Adiwiyata. Program ini bukan hanya membuat sekolah terlihat hijau dan bersih, tetapi juga membentuk budaya peduli lingkungan dalam kurikulum, manajemen, serta perilaku seluruh warga sekolah.
Definisi dan Manfaat Sekolah Adiwiyata
Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang menerapkan prinsip peduli dan berbudaya lingkungan hidup, lalu dinilai memenuhi kriteria tertentu oleh pemerintah sehingga berhak mendapat penghargaan. Predikat ini bisa diberikan di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, bahkan mandiri.
Manfaat utama dari program ini antara lain:
- Menumbuhkan kesadaran warga sekolah terhadap isu lingkungan, seperti pengelolaan sampah, efisiensi penggunaan energi, dan penghijauan.
- Mengurangi biaya operasional melalui penghematan sumber daya.
- Menjadikan sekolah sebagai tempat belajar nilai-nilai kepedulian, tanggung jawab, dan keberlanjutan lingkungan.
Fakta dan Capaian Terbaru
Dalam dua tahun terakhir, jumlah sekolah Adiwiyata meningkat secara signifikan. Pada 2023 terdapat sekitar 552 sekolah, sedangkan pada 2024 jumlahnya naik menjadi 720 sekolah, atau meningkat lebih dari 30 persen. Dari jumlah tersebut, lebih dari 200 sekolah dan madrasah berhasil meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri, sementara sisanya mendapatkan penghargaan di tingkat nasional.
Pemerintah daerah juga menunjukkan komitmen kuat. Beberapa kota besar menargetkan ratusan sekolah tambahan untuk masuk program Adiwiyata pada 2025. Di wilayah lain, ratusan sekolah secara resmi menyatakan kesanggupan menjadi sekolah berbudaya lingkungan. Seleksi sekolah calon Adiwiyata juga terus digelar, melibatkan puluhan hingga ratusan sekolah setiap tahunnya.
Tidak hanya sekolah umum, madrasah juga semakin aktif berpartisipasi. Pada 2024, puluhan madrasah berhasil meraih penghargaan Adiwiyata, menunjukkan bahwa pendidikan berbasis lingkungan hidup tidak terbatas pada jenis sekolah tertentu.
Tantangan dalam Pelaksanaan Program Adiwiyata

Meskipun jumlah sekolah meningkat, ada beberapa tantangan yang dihadapi. Pertama, tidak semua sekolah benar-benar mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum dan aktivitas sehari-hari. Dalam beberapa kasus, komitmen hanya muncul menjelang penilaian. Kedua, keterbatasan sumber daya, baik dana maupun fasilitas, masih menjadi kendala di sekolah-sekolah di daerah. Ketiga, keberlanjutan program sering menjadi masalah; beberapa sekolah yang sudah pernah mendapat penghargaan tidak melanjutkan evaluasi, sehingga predikatnya tidak aktif lagi.
Permen LHK Nomor 5 Tahun 2025
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri LHK Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Program Adiwiyata. Regulasi ini memperbarui tata kelola, kriteria, mekanisme penghargaan, dan evaluasi program. Tujuannya agar program tidak hanya menjadi ajang penghargaan sesaat, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya sekolah yang berkelanjutan.
Permen terbaru ini mendorong sekolah membuat rencana jangka panjang hingga empat tahun, disertai evaluasi tahunan. Dengan begitu, sekolah diharapkan mampu menjaga konsistensi dalam pengelolaan lingkungan, meningkatkan kualitas pendidikan lingkungan, dan melibatkan seluruh pihak termasuk masyarakat sekitar.
Enam Program Sekolah Adiwiyata di SMK Bina Harapan Sleman
Sebagai bagian dari komitmen terhadap lingkungan hidup, SMK Bina Harapan Sleman menerapkan enam program unggulan dalam rangka mendukung predikat Sekolah Adiwiyata. Program ini tidak hanya sebatas rutinitas, melainkan sudah menjadi budaya yang ditanamkan kepada seluruh warga sekolah.
-
Inovasi Penerapan Perilaku Hidup Bersih
Sekolah mendorong siswa untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Program ini terintegrasi dalam kegiatan harian, seperti pembiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah praktik, penggunaan tempat sampah terpilah, serta pengawasan rutin oleh tim kebersihan sekolah. -
Kebersihan Fungsi Sanitasi dan Drainase
Seluruh fasilitas sanitasi diperiksa dan dibersihkan secara berkala. Drainase di sekitar sekolah juga diperhatikan agar tidak menimbulkan genangan air yang berpotensi menjadi sumber penyakit. Hal ini sekaligus mengajarkan siswa pentingnya sistem sanitasi yang sehat dan berfungsi baik. -
Konservasi Air
Untuk menghemat penggunaan air, sekolah menggunakan sistem penampungan air hujan yang kemudian dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman. Selain itu, kampanye hemat air digalakkan melalui poster dan penyuluhan singkat di kelas. -
Konservasi Energi
Program hemat energi diwujudkan melalui pengawasan pemakaian listrik, serta pembiasaan mematikan perangkat elektronik jika tidak digunakan. Guru dan siswa dilibatkan aktif dalam mengontrol konsumsi energi di sekolah. -
Pengelolaan Sampah
SMK Bina Harapan memiliki sistem pengelolaan sampah terpilah antara organik, anorganik, dan B3. Siswa dilibatkan dalam pengolahan sampah organik menjadi kompos yang kemudian digunakan untuk memupuk tanaman di lingkungan sekolah. -
Penanaman dan Pemeliharaan Pohon/Tanaman
Area sekolah dihijaukan dengan berbagai jenis pohon peneduh dan tanaman hias. Program “satu siswa satu tanaman” digalakkan agar setiap peserta didik memiliki tanggung jawab dalam merawat tanaman yang ditanamnya.
Wawancara dengan Kepala Sekolah
Dalam wawancara singkat, Nanang Dody Setyawan, S.Pd, selaku Kepala SMK Bina Harapan Sleman, menyampaikan pandangannya mengenai program Adiwiyata di sekolah:
“Enam program ini bukan hanya sekadar kegiatan tambahan, tetapi sudah menjadi bagian dari pembelajaran karakter di SMK Bina Harapan. Kami ingin anak-anak terbiasa hidup bersih, hemat energi, dan peduli pada lingkungan sejak di sekolah. Harapannya, kebiasaan ini bisa mereka bawa ke rumah dan lingkungan masyarakat. Dengan begitu, manfaatnya lebih luas dan berkelanjutan.”
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa Adiwiyata bukanlah tujuan akhir, melainkan proses pembiasaan jangka panjang:
“Kami tidak mengejar penghargaan semata. Yang terpenting adalah budaya ramah lingkungan benar-benar tumbuh di sekolah ini. Itu akan menjadi warisan positif bagi siswa kami di masa depan.”
Sekolah Adiwiyata di SMK Bina Harapan adalah wujud nyata komitmen dunia pendidikan dalam mencetak generasi yang peduli lingkungan. Peningkatan jumlah sekolah yang meraih penghargaan, partisipasi madrasah, serta dukungan pemerintah daerah menunjukkan bahwa gerakan ini semakin kuat. Dengan adanya regulasi terbaru, Adiwiyata diharapkan berkembang bukan sekadar label, melainkan budaya yang melekat di kehidupan sekolah sehari-hari.
Halo saya Triana Putra, S.Pd saat ini sebagai Kepala Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Bina Harapan, saya menyelesaikan pendidikan S1 di jurusan Pendidikan Teknologi Informasi Universitas Teknologi Yogyakarta, selain itu saya adalah alumni SMK Bina Harapan yang lulus pada tahun 2013, dan saat ini bekerja di sekolah kebanggaan saya.





