Buat kamu yang suka dunia animasi, pasti nggak asing lagi dengan istilah “anime”. Tapi, pernah nggak sih kamu kepikiran soal anime dari Tiongkok? Atau mungkin kamu pernah nonton animasi seperti Fog Hill of Five Elements atau Link Click lalu bingung, ini anime Jepang atau bukan? Nah, inilah saat yang pas buat kita kulik lebih dalam soal perbedaan antara anime Jepang dan China — bukan sekadar dari mana asalnya, tapi dari berbagai aspek yang lebih dalam.

Dulu, ketika kita ngomongin soal animasi Asia, Jepang jadi jawara utama. Nama-nama besar kayak Naruto, One Piece, sampai Attack on Titan udah mendunia. Tapi sekarang, menurut animechina.id perlahan tapi pasti, China mulai unjuk gigi dengan gaya visual dan storytelling-nya yang unik. Bahkan, jumlah penonton dan produksi animasi dari negeri tirai bambu itu meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan iResearch China, nilai pasar animasi di China pada 2023 sudah mencapai lebih dari 250 miliar yuan (sekitar Rp550 triliun), dan terus tumbuh seiring meningkatnya minat generasi muda terhadap budaya pop lokal.

Perbedaan Anime China dan Jepang

Pertanyaannya, apakah yang bikin anime China (yang biasa disebut “donghua”) berbeda dari anime Jepang? Apa cuma soal bahasa dan studio produksi? Atau lebih dari itu?


1. Bahasa dan Budaya yang Membentuk Identitas Visual

Ini perbedaan paling kentara. Anime Jepang, seperti namanya, menggunakan bahasa Jepang sebagai medium utama. Sebaliknya, donghua menggunakan bahasa Mandarin. Tapi bukan cuma soal bahasa yang terdengar di telinga—bahasa membawa budaya, dan budaya itu membentuk narasi, nilai, bahkan desain karakter.

Anime Jepang sering menyisipkan unsur budaya tradisional seperti samurai, yokai, atau kehidupan sekolah khas Jepang. Contohnya, Your Name (Kimi no Na wa) menyuguhkan perpaduan antara modernitas Tokyo dan spiritualitas Shinto.

Di sisi lain, donghua cenderung kuat dalam elemen Tiongkok klasik. Cerita tentang kultivasi, kerajaan kuno, mitologi Tiongkok, dan filosofi Tao sering jadi inti. Misalnya, White Snake atau Big Fish and Begonia mengusung kisah cinta dan spiritualitas khas negeri Tiongkok. Penggambaran dunia mereka biasanya dipenuhi oleh simbol-simbol budaya seperti pakaian hanfu, kaligrafi, dan seni bela diri ala Wuxia atau Xianxia.


2. Gaya Animasi: Sama Cantiknya, Beda Pendekatannya

Kalau kita lihat sekilas, memang gaya animasi Jepang dan China kadang mirip—karakter bermata besar, wajah ekspresif, dan warna yang kontras. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, gaya ilustrasi mereka berbeda.

Anime Jepang lebih konsisten dalam standar visual: garis bersih, shading lembut, dan frame rate sedang tapi efektif untuk dramatisasi. Sementara donghua sering tampil lebih eksperimental, bahkan cenderung lebih digital. Studio China seperti Haoliners Animation League dan Bilibili sering menggunakan CGI dan frame rate tinggi, menciptakan gerakan yang lebih halus tapi kadang terasa “game-like”.

Misalnya, Fog Hill of Five Elements tampil dengan pendekatan visual mirip lukisan tinta Tiongkok, padahal animasinya full action. Ini menunjukkan bahwa donghua nggak cuma meniru anime Jepang, tapi juga mengembangkan ciri khas visualnya sendiri.


3. Tema Cerita: Sekolah vs Kultivasi

Kalau kamu penggemar anime Jepang, kamu pasti familiar dengan kisah remaja sekolah yang jatuh cinta, bertarung melawan monster, atau menyelamatkan dunia dengan kekuatan persahabatan. Tema seperti ini mendominasi karena segmentasi utama anime Jepang adalah remaja, dan kehidupan sekolah dianggap relatable sekaligus penuh potensi konflik.

Sebaliknya, donghua sering menampilkan tokoh yang “naik level” dari lemah ke kuat melalui proses spiritual yang dikenal sebagai kultivasi. Dunia mereka seringkali dipenuhi dengan ranking kekuatan, teknik bela diri tingkat tinggi, dan hubungan guru-murid yang sakral. Ini bisa dilihat di donghua seperti Battle Through the Heavens atau Martial Universe.

Menariknya, tema kultivasi ini bukan hanya hiburan, tapi mencerminkan filosofi hidup ala Taoisme dan Konfusianisme: mencapai kesempurnaan melalui disiplin diri dan keseimbangan dengan alam.


4. Durasi dan Format Produksi

Anime Jepang biasanya hadir dalam format 12–24 episode per musim, dengan durasi 20–24 menit per episode. Produksi mereka pun terstruktur dan dikerjakan oleh studio besar seperti MAPPA, Ufotable, atau Kyoto Animation.

Donghua, di sisi lain, punya pola yang lebih fleksibel. Beberapa tayang mingguan dengan durasi singkat, bahkan hanya 10–15 menit per episode. Tapi ada juga yang dirilis sebagai film panjang dengan animasi super halus dan sinematografi sinematik. Studio seperti Light Chaser Animation atau China Literature Ltd. kini aktif memproduksi donghua adaptasi dari webnovel populer dan game mobile, yang membuat pasar mereka semakin luas dan mendunia.


5. Target Pasar dan Sensor Pemerintah

Ini perbedaan yang cukup signifikan. Anime Jepang punya kebebasan berekspresi lebih tinggi. Mereka bisa menyisipkan tema sensitif seperti psikologi gelap, kekerasan, hingga kritik sosial. Bandingkan saja Tokyo Ghoul, Death Note, atau Psycho-Pass yang cukup “berani”.

Sedangkan donghua sering kali harus tunduk pada regulasi ketat dari pemerintah China. Banyak tema yang tidak boleh diangkat secara eksplisit, terutama yang berkaitan dengan isu politik, LGBT, atau kekerasan ekstrem. Hasilnya, konten donghua cenderung “aman”, walau tetap menarik berkat kedalaman dunia cerita dan efek visual yang kuat.

Namun, ini juga jadi pendorong kreatif bagi animator Tiongkok untuk lebih halus dalam menyampaikan pesan, seperti yang terlihat di The King’s Avatar—kisah esports yang populer di kalangan generasi muda.


6. Komunitas dan Ekspansi Global

Kalau ngomongin soal fanbase global, Jepang jelas masih mendominasi. Anime dari Jepang lebih dulu menembus pasar global lewat TV kabel, streaming, hingga cosplay dan konvensi. Jepang juga punya sistem distribusi dan pemasaran yang sudah matang.

Namun, China nggak mau ketinggalan. Mereka gencar mengekspor donghua lewat platform global seperti YouTube, Bilibili International, hingga kerja sama dengan Crunchyroll dan Netflix. Beberapa donghua seperti Heaven Official’s Blessing dan Scissor Seven bahkan sudah mendapat subtitel hingga dubbing dalam berbagai bahasa.

Menariknya, banyak penonton luar negeri yang mulai tertarik pada donghua bukan karena mirip anime, tapi justru karena perbedaan nilai dan estetikanya.


Penutup: Apakah Donghua Akan Menggeser Dominasi Anime?

Anime Jepang dan donghua China punya kekuatan masing-masing. Jepang unggul dalam pengalaman, storytelling emosional, dan fanbase loyal. Sementara China unggul dalam eksperimen visual, cerita berbasis mitologi lokal, dan perkembangan teknologinya yang sangat cepat.

Namun, bukan berarti satu lebih baik dari yang lain. Justru, semakin beragamnya jenis animasi dari Asia membuka pintu baru bagi penonton global untuk menikmati cerita dari berbagai sudut pandang budaya. Selera orang beda-beda, dan kini kita punya lebih banyak pilihan tontonan yang bisa disesuaikan dengan minat dan nilai yang kita pegang.

Nah, buat kamu yang selama ini cuma nonton anime Jepang, mungkin ini saat yang pas untuk kasih kesempatan pada donghua. Siapa tahu kamu menemukan cerita yang relate banget atau malah jatuh cinta sama dunia kultivasi!

🎬 Sudah pernah nonton donghua? Coba share favoritmu, atau tanyakan rekomendasi lainnya—biar nontonmu makin seru dan beragam!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *